A. PENDAHULUAN
Negeri di Andalus (spanyol) sejak dari abad VIII Masehi merupakan
salah satu pondasi
yang
kuat dari peradaban, kebudayaan dan
pendidikan Islam, yang di mulai dengan mempelajari ilmu agama dan satra,
kemudian meningkat dengan mempelajari ilmu-ilmu
akal. Karena, dalam waktu relative singkat Cordova dapat menyaingi kota
Baghdad dan kairo dalam bidang pengetahuan dan kesustraan. Pada masa
pemerintahan Abdurrahman III pada abad
X Masehi, negeri Andalus telah mencapai
puncak kemegahan dalam segi materi dan maknawi serta memperoleh kekuataan dan
kebesaran yang telah di capai oleh kerajaan-kerajaan di bagian Timur abad IX
Masehi.
Spanyol adalah negeri yang subur.
Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya
menghasilkan para pemikir hebat. Masyarakat spanyol islam merupakan masyarakat
yang majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas arab (Utara dan Selatan),
al-Muwalladun (orang-orang spanyol yang masuk islam), Barbar (orang islam dari
afrika utara), al-shaqalibah (penduduk antar konstaninopel dan Bulgaria yang
menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa islam untuk di jadikan
tentara bayaran, yahudi , Kristen
Muzareb yang berbudaya arab, dan Kristen yang masih menentang agama islam.
Semua komunitas itu kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual
terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan
ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik spanyol.
Sistem pendidikan islam yang terjadi
di Andalusia dan sisilia yang mencakup keberadaan
Dalam perkembangan kebudayaan islam, nampak adanya dua faktor yang
saling mempengaruhi, yaitu faktor intern atau pembawaan dari ajaran islam itu
sendiri, dan faktor ekstern, yaitu berupa tantangan dari luar. Tetapi,
sebenarnya pengaruh dari luar tersebut, hanyalah berupa sekedar sebagai
tantangan saja, agar potensi pembawaan dariajaran islam itu sendiri bisa tumbuh
dan berkembang. Yang paling menetukan jiwa dan semangat kaum muslimin, terutama
para ahlinya dalam penghayatan dan pengalaman ajaran islam sebagaimana
tercantum dalam Al-Qur’an.
Banyak ayat-ayat al-qur’an yang di hayati dan dilaksanakansesuai
dengan jiwa dan semangatnya memang akan menghasilkan perkembangan budaya yang
tinngi yang mengarah kepada rahmatan lil ‘alamin. Tetapi, manakala umat islam
telah kehilangan semangat dan jiwa al-qur’an, dan sudah tidak memperhatikan dan
mengabaikan penghayatan dan pengalamanya secara benar, akan berhenti dan
mendengar kebudayaan islam, sebagimana yang nampak pada masa kemunduran
kebudayaan islam.
1.
Berkembangnya Lembaga-lembaga Pendidikan Islam
Sebelum timbulnya sekolah dan universitas yang kemudian[1]
dikenal sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia islam. Sebenarnya telah
berkembang lembaga-lembaga pendidikan islam yang bersifat non formal.
Lembaga-lembaga ini berkembang terus dan bahkan bersamaan dengan tumbuh dan
berkembanganya bentuk-bentuk lembaga pendidikan
non formal yang semakin luas. Di antara lembaga-lembaga pendidikan islam yang
bercorak non formal tersebut adalah :
a.
Kuttab
Sebagai Lembaga Pendidikan Dasar
Sewaktu agama
islam di turunkan Allah sudah ada di antara para sahabat yang
pandai baca dan
tulis. Kemudian tulis baca tersebut ternyata mendapat tempat dan dorongan yang
kuat dalam islam, sehingga berkembang luas di kalangan umat islam. Ayat
Al-Qur’an yang pertama di turunkan, telah memerintahkan untuk membaca dan
menulis dan memberikan gambaran bahwa kepandaian membaca dan menulis merupakan
sarana utama dalam pengembangan Ilmu pengetahuan dalam pandangan islam.
Pengajaran Al-Qur’an sejak awalnya juga telah memerlukan kepandaian tulis baca,
walau pada mulanya Rasullah melarang untuk menuliskan selain Al-Qur’an.
Sejak Islam pertama kali menginjakkan kakinya di Andalusia hingga jatuhnya
kerajaan Islam terakhir dan sekitar tujuh setengah abad lamanya, Islam
memainkan peranan yang besar, baik dalam bidang Intelektual (filsafat, sains,
fikih, musik dan kesenian, bahasa dan sastra) juga kemegahan bangunan fisik
(Cordova dan Granada). Umat muslim Andalusia telah
menoreh catatan sejarah yang mengagumkan dalam bidang intelektual, banyak
perestasi yang mereka peroleh khususnya perkembangan pendidikan Islam.
Pertumbuhan lembaga-lembaga pendidikan Islam sangat tergantung pada penguasa
yang menjadi pendorong utama bagi kegiatan pendidikan. Di Andalusia menyebar
lembaga pendidikan yang dinamakan Kuttab selain Masjid. Kuttab termasuk lembaga
pendidikan terendah yang sudah tertata dengan rapi dan para siswa mempelajari
berabagai macam disiplin Ilmu Pengetahuan diantaranya :
a.
Fikhi.
Oleh karena umat Islam di
Andalusia penganut Mazhab Maliki, maka para siswa mendapatkan materi –materi pelajaran fikhi dari Imam Mazhab Maliki. Yang memperkenalkan
mazhab ini adalah Ziyad ibn Abd. Al-Rahman, perkembangan selanjutnya dilakukan
seorang qadhi pada masa Hisyam ibn abd. Al-Rahman yaitu Ibnu Yahya. Dan masih
banyak ahli-ahli fikhi lainnya diantaranya Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir ibn
Sa’id al-Baluthi dan ibn Hazam. Yang sangat populer saat itu.
b.
Bahasa dan Arab
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di
Andalusia, hal ini dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non Islam, bahkan
penduduk asli menomorduakan bahasa asli mereka, para siswa diwajibkan berdialog
dengan melalui bahasa arab, sehingga bahasa ini cepat populer dan menjadi
bahasa keseharian. Mereka yang ahli dan mahir bahasa Arab baik keterampilan
berbicara maupun tata bahasa adalah Ibn Sayyidih, Ibn Malik yang mengarang
Al-fiyah, Ib Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur
dan Abu Hayyan al- Gharnathi. Seiring kemajuan di bidang bahasa , muncul banyak
karya sastra seperti Al-Íqd al-Farid karya Ibn Abd. Rabbih, al-Dzakhirah fi
Mahasin ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn
Khaqan dan banyak lagi yang lain.
c.
Seni Musik Dan Seni Suara
Dalam bidang musik dan suara, Islam di Andalusia mencapai kecemerlangan
dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab. Ia selalu tampil
mempertunjukan kebolehannya. Kepawaiannya bermusik dan seni membuat ia menjadi
orang termasyhur dikala itu, ilmu yang dimilikinya diajarkan kepada
anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan dan juga kepada para budak,
sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
d.
Pendidikan
Rendah di Istana
Timbulnya
pendidikan rendah di istana untuk anak-anak para pejabat, adalah berdasarkan
pemikiran bahwa pendidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu
melaksanakan tugas-tugasnya kelak setelah ia dewasa.[2] Atas
dasar pemikiran tersebut, khalifah dan keluarganya serta para pembesar istana
lainnya berusaha menyiapkan agar anak-anaknya sejak kecil sudah di perkenalkan
dengan lingkungan dan tugas-tugas yang akan dimilikinya nanti.
e.
Took-toko
Kitab
Tokoh-tokoh kitab
tersebut telah berkembang fungsinya bukan hanya sebagai tempat berjual beli
kitab-kitab saja, tetapi juga merupakan tempat berkumpulnya para ulama,
pujangga dan ahli-ahli ilmu pengetahuan lainnya.
f.
Rumah-rumah
Para Ulama (ahli ilmu pengetahuan)
Walaupun, rumah
bukanlah merupakan tempat yang baik untuk tempat memberikan pelajaran kepada
manusia, namun pada zaman kejayaan perkembanganilmu pengetahuan dan kebudayaan
Islam, banyak juga rumah-rumah para ulama dan para ahli ilmu pengetahuan
menjadi tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.
g.
Rumah
Sakit
Rumah saikt ini
juga merupakan tempat praktikum dari sekolah kedokteran yang didirikan di luar
rumah sakit, tetapi tidak jarang pula sekolah-sekolah kedokteran tersebut
didirikan tidak terpisah dari rumah sakit. Dengan demikian rumah sakit dalam
dunia islam, juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.
2.
Sistem Pendidikan Sekolah-sekolah Islam Di Andalusia dan Sisilia
Sebenarnya timbul lembaga pendidikan formal dalam bentuk
sekolah-sekolah dalam dunia islam, adlah merupakan pengembangan semata-mata
dari sistem pengajaran dan pendidikan yang telah berlangsung di masjid-masjid,
yang sejak awal telah berkembang dan dilengkapi dengan saran dan prasarana
untuk memperlacar pendidikan dan pengajaran di dalamnya.
Diantara faktor-faktor yang menyebabkan berdirinya sekolah-sekolah
di luar mesjid adalah bahwa :
a)
Khalaqah-khalaqah
(lingkaran) untuk mengerjakan berbagai ilmu pengetahuan, yang di dalamnya juga
terjadi diskusi dan perdebatan yang ramai, sering satu sama lain saling
mengganggu, di samping sering pula orang-orang yang beribadah di dalam mesjid.[3]
Keadaan demikian, mendorong untuk di pindahkannyakhalaqah-khalaqah tersebut di
luar lingkungan di mesjid, dan didirikanlah bangunan-bangunan seba[4]gai
ruang-ruang kulih atau kelas-kelas yang tersendiri. Dengan demikian kegiatan
pengajaran dari khalaqah-khlaqah tersebut tidak saling mengganggu satu sama
lain.
b)
Dengan
berkembang luasnya ilmu pengetahuan, baik mengenai agama maupun umum maka di
perlukan semakin banyak khalaqah-khlaqah (lingkaran-lingkaran pengajaran), yang
tidak mungkin keseluruhan terampung dalam ruang mesjid.
Di samping itu terdapat faktor-faktor lainnya, yang mendorong bagi
para penguasa dan pemegang pemerintahan pada masa itu untuk mendirikan sekolah-sekolah
sebagai bangunan-bangunan yang terpisah dari mesjid. Antara lain adalah :
a.
Mereka
mendirikan sekolah-sekolah yang mereka dirikan. Dengan harapan untuk
mendapatkan simpati dari rakyat umumnya, juga berharap mendapatkan ampunan dan
pahala dari tuhan.
Para pembesar
negara pada masa itu, dengan kekayaan mereka yang luar biasa, banyak yang hidup
kemewahan dan sering pula berbuat maksiat. Dengan mendirikan sekolah-sekolah
dan membiayainya secukupnya, berarti mereka telah mewkafkan dan membelanjakan
harta bendanya di jalan allah. Mereka berharap hal yang demikian dapat menjadi
penebus dosa dan maksiat yang telah mereka kerjakan.
b.
Para
pembesar negara pada masa itu dengan kekuasannya, telah berhasil mengumpulkan
harta kekayaan yang banyak. Mereka khawatir kalu nantinya kekayaan tersebut
tidak bisa di wariskan kepada anak-anaknya, karena di ambil oleh sultan.[5] Anak-anak
mereka akan menjadi terlantar dan hidup dalam kemiskinan.
Untuk
menghidari hal tersebut, mereka mendirikan madrasah-madrasah yang dilengkapi
dengan asrama-asrama, dan di jadikan sebagai wakaf keluarga. Anak-anak dan kaum
kelurgalah yang berhak mengurus harta kekayaan wakaf tersebut, sehingga
kehidupan mereka dengan demikian akan tetap terjamin.
c.
Disamping
itu, didirikannya madrasah-madrasah tersebut ada hubungannya dengan usaha untuk
mempertahankan dan mengembangkan aliran keagamaan dari para pembesar Negara
yang bersangkutan. Dalam mendirikan sekolah ini, mereka mempersyaratkan harus
di ajarkan aliran keagamaan tersebut akan berkembang dalam masyarakat.
Walau
bagaimanapun motivasinya, namun jelas bahwa dengan berkembangnya
madrasah-madrasahkarena muslimin telah mendapatkan kesempatan yang luas untuk
mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Dengan berdirinya
madrasah-madrasah tersebut, lengkaplah lembaga pendidikan islam yang bersifat
formal, mulai dari tingkat dasar yaitu kuttab sampai tingkat menegah dan
tingkat tinggi. Lembaga-lembaga pendidikan formal ini belum mempunyai kurikulum
yang seragam, tetapi masih bervariasi antara madrasah satu dengan lainnya. Hal
ini sangat tergantung kepada keahlian guru-gurunya, pandangan tentang
kepentingan suatu ilmu pengetahuan, dan berhubungan dengan perhatian dari pada
pembesar pendiri sekolah-sekolah atau madrasah yang bersangkutan.
Pokok-pokok rencana peljaran berbagai tingkatan pendidikan tersebut
sebagai berikut :
a)
Rencana
pelajaran kuttab (pendidikan dasar)
1.
Membaca
Al-Qur’an dan mengahafalnya.
2.
Pokok
agama islam, seperti cara mengerjakan wudhu, shalat, puasa dan sebagainya.
3.
Menulis
4.
Kisah
atau riwayat orang-orang besar islam.
5.
Mebaca
dan mengahafal syair-syair atau natsar (prosa).
6.
Berhitung.
7.
Pokok-pokok
nahwu dan sharaf ala kadarnya.
Lama belajar di kuttab ini, tidaklah sama, tergantung
kepada kecerdasan dan kemampuan
masing-masing anak, karena sistem pengajaran pada masa itu belum di
laksanakan secara klasikal sebagaimana umumnya sistem pengajaran sekarang ini.
Tetapi pada umumnya, anak-anak menyelesaikan pendidikan dasar ini selama kurang
lebih 6 tahun.
b)
Rencana
Pelajaran Tingkat Menengah
Rencana
pelajaran untuk pendidikan tingkat menegah pun tidak adakeseragaman
diseluruh negara Islam, karena pada itu telah bercerai berai satu
dengan lainnya. Pada umumnya rencana
pelajaran tersebut meliputi mata pelajaran yang bersifat umum, sebagai berikut
:
1.
Al-Qur’an
2.
Bahasa
Arab dan kesusteraannya
3.
Fiqih
4.
Tafsir
5.
Hadits
6.
Nahwu/sharaf/balaghah
7.
Ilmu-ilmu
pasti
8.
Mantiq
9.
Ilmu
falak
10. Tarikh (sejarah)
11. Ilmu-ilmu alam
12. Kedokteran
13. Musik
Disamping itu ada mata pelajaran
yang bersifat kejujuran, misalnya untuk menjadi juru
tulis kantor-kantor. Selain dari belajar bahasa, murid di sini
harus belajar surat menyurat, pidato, diskusi, berdebat, serta tulisan indah.
Selanjutnya dari
pandangan Ibnu Sina mengatakan tengang pelajaran pendidikan menegah kejuruan
ini sebagai berikut :
“Hendaklah guru mengetahui, bahwa tiap-tiap perusahaan yang di
kehendaki anak-anak, tidaklah semua mungkin dan mudah dilaksanakannya. Tetapi,
hanya yang sebentuk dan yang sesuai dengan tabi’atnya (bakatnya). Kalau
sekiranya semua sastra dan perusahaan dapatdan mudah di laksanakan oleh
tiap-tiap orang, meskipun tidak sesuai denga bakatnya tentu semua orang bisa
menjadi ahli sastra dan ahli perusahaan. Sebagai bukti perkataan kita itu,
ialah bahwa sebagaian sastra mudah bagi setengah orang dan sukar bagi yang
lain. Oleh sebab itu kita lihat,ada orang yang mudah baginya mempelajari
balaghah, yang lain mudah baginya mempelajari nahwu,yang lain mudah baginya
syair, dan yang lain lagi memilih ilmu kedokteran dan begitulah seterusnya.
Kadang-kadang ada pula orang yang tak ingin kepada sastra dan
perusahaan sama sekali, sehingga ia
tidak mengerti bila di ajarkan kepadanya. Oleh sebab itu hendaklah lebih
dahulu pendidik anak-anak mempertimbangkan[6] dan
memperhatikan tabi’at (bakat) anak-anak, bila ia hendak memilih suatu
perusahaan, serta di salami kecenderungan hatinya dan di test kecerdasannya.
Kemudian baru di pilih baginya suatu perusahaan yang sesuai dengan bakat dan
kecerdasan itu. Itulah yang lebih baik, supaya jangan terbuang percuma umur
anak-anak dalam melakukan perusahaan yang tidak sesuai dengan bakat dan
kecerdasannya”.
c)
Rencana
Pelajaran Pada Pendidikan Tinggi
Pada
umumnya rencana pelajaran pada perguruan tinggi Islam, di bagi menjadi
dua jurusan, yaitu :
1.
Jurusan
ilmu-ilmu agama dan bahasa serta sastera Arab, yang juga di sebutsebgai
ilmu-ilmu Naqliyah, yang meliputi :
a.
Tafsir
Al-Qur’an
b.
Hadits
c.
Fiqih
dan Ushul fiqih
d.
Nahwu/Sharaf
e.
Balaghah
f.
Bahasa
Arab dan Kesusteraannya
2.
Jurusan
ilmu-ilmu umum, yang di sebut sebagai Ilmu Aqliyah meliputi :
a.
Mantiq
b.
Ilmu-ilmu
alam dan kimia
c.
Musik
d.
Imu-ilmu
pasti
e.
Ilmu
ukur
f.
Ilmu
falak
g.
Ilmu
Ilahiyah (ketuhanan)
h.
Ilmu
hewan
i.
Ilmu
tumbuh-tumbuhan
j.
Kedokteran
Semua mata pelajaran (ilmu-ilmu)
tersebut di ajarkan seluruhnya pada perguruan tinggi,
dan belum di adakan takhasus (pendalaman salah satu bidang ilmu).
takhasus (pendalaman salah satu bidang ilmu) adalah sesudah seseorang tamat
dari perguruan tinggi, dan di sesuaikan dengan bakat dan kecenderungan
masing-masing.
3
Puncak Kemajuan Ilmu Kebudayaan Islam
Puncak
perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani
Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa
Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan
Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal Islam, lembaga pendidikan
sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua
tingkat:
a.
Maktab/Kuttab
dan masjid, yaitu lembaga
pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan
tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir,
hadits, fiqh dan bahasa.
b.
Tingkat
pendalaman, dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar
daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya
masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya
berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak
penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut
dengan memanggil ulama ahli ke sana.
Lembaga-lembaga
ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya
perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah
universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat
membaca, menulis dan berdiskusi. Perkembangan lembaga pendidikan itu
mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini
sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai
bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun
sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Disamping itu, kemajuan itu paling tidak, juga
ditentukan oleh dua hal, yaitu :
a. Terjadinya
asimilasi antara bangsa Arab dengan
bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu
pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non-Arab banyak
yang masuk Islam. Asimilasi
berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham
tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sebagaimana
sudah disebutkan, sangat kuat di bidang pemerintahan. Disamping itu, bangsa
Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam
bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui
terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.
b.
Gerakan
terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah
al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan
adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua berlangsung
mulai masa khalifah al-Ma'mun hingga tahun
300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan
kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah
adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
Pengaruh dari
kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut, terutama melalui gerakan
terjemahan, bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum, tetapi
juga ilmu pengetahuan agama. Dalam bidang tafsir, sejak awal sudah dikenal dua
metode, penafsiran pertama, tafsir bi al-ma'tsur, yaitu interpretasi
tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para
sahabat. Kedua, tafsir bi al-ra'yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak
bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat.
Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan
tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi, (tafsir rasional),
sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan.
Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan
logika di kalangan umat Islam sangat mempengaruhi perkembangan dua bidang ilmu
tersebut.
Imam-imam
madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah. Imam Abu Hanifah (700-767 M)
dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kota yang
berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup
kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Karena
itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits.
Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun Ar-Rasyid. Berbeda
dengan Imam
Abu Hanifah, Imam
Malik (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi
masyarakat Madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi'i (767-820 M),
dan Imam
Ahmad ibn Hanbal (780-855 M) yang mengembalikan sistim madzhab dan
pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk
berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. Hal ini mereka
lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari
kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab. Disamping empat pendiri
madzhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid
lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab-nya
pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mazhab
itu hilang bersama berlalunya zaman.
Aliran-aliran
yang sudah ada pada masa Bani Umayyah, seperti Khawarij, Murji’ah dan Mu'tazilah pun ada. Akan
tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Teologi rasional Mu'tazilah muncul di
ujung pemerintahan Bani Umayyah. Namun, pemikiran-pemikirannya yang lebih
kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas
periode pertama, setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa
pemikiran filsafat dan
rasionalisme dalam Islam. Tokoh perumus
pemikiran Mu'tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235
H/752-849M) dan al-Nazzam (185-221 H/801-835M). Asy'ariyah, aliran tradisional di bidang teologi
yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari (873-935 M)
yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika
Yunani. Ini terjadi, karena al-Asy'ari sebelumnya adalah pengikut Mu'tazilah.
Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Penulisan hadits, juga
berkembang pesat pada masa Bani Abbas. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh
tersedianya fasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan
penulis hadits bekerja.
Pengaruh
gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama
di bidang astronomi, kedokteran,
filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama
kali menyusun astrolobe. Al-Farghani, yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam
lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. Ar-Razi
adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia
juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya,
ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Ibnu Sina yang juga
seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran
darah pada manusia. Diantara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang
merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah.
Dalam bidang
optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami, yang di Eropa
dikenal dengan nama Alhazen, terkenal
sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang
dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang
mengirim cahaya ke mata. Di bidang kimia, terkenal nama
Jabir
ibn Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan
tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat
tertentu. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, yang juga
mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang
menciptakan ilmu aljabar. Kata aljabar
berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoibalah. Dalam bidang sejarah
terkenal nama al-Mas'udi. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Diantara
karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma'aadzin al-Jawahir.
Tokoh-tokoh
terkenal dalam bidang filsafat, antara lain al-Farabi, Ibnu Sina,
dan Ibnu Rusyd. Al-Farabi
banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan
interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga
banyak mengarang buku tentang filsafat, yang terkenal diantaranya ialah
asy-Syifa'. Ibnu Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak
berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga di sana terdapat aliran
yang disebut dengan Averroisme. Pada masa kekhalifahan ini, dunia
Islam mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Salah
satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang
pengetahuan, sastra, dan filosofi dari Yunani, Persia, dan Hindustan.
Banyak golongan
pemikir lahir zaman ini, banyak diantara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. Mereka ini
memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu, dan ilmu
zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Sumbangan
mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal
di Eropa. Tambahan pula, pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi, matematika, dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Ilmu-ilmu ini
kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan
sebagainya.
Kemajuan intelektual Al-Andalus bermula dari perseturuan intelektual antara
Bani Umayyah yang menguasai Al-Andalus, dengan Bani Abbasiyah yang berkuasa di
Timur Tengah. Penguasa Umayyah berusaha memperbanyak perpustakaan dan lembaga
pendidikan di kota-kota Al-Andalus seperti Cordova, untuk mengalahkan ibukota
Abbasiyah Baghdad. Walaupun Bani Umayyah dn Bani Abbasiyah saling bersaing,
kedua kekhalifahan ini mengizinkan perjalanan antara kedua kekhalifahan ini
dengan bebas, yang membantu penyebaran dan pertukaran ide serta inovasi dari
waktu ke waktu.
2. Pendidikan
Tinggi
Di kawasan Andalusia yang pernah menjadi pusat
pemerintahan Islam, juga banyak dibangun banyak perguruan tinggi terkenal
seperti Universitas Cordova, Sevilla,
Malaga, Granada dan yang lainnya. Orang-orang Eropa yang pertama kali belajar
sains dan ilmu pengetahuan banyak tertarik untuk belajar di berbagai perguruan
tinggi di Andalusia. Sehingga, lahirlah kemudian murid-murid yang menjadi para
pemikir dan filosof terkenal Eropa. Sejak itu, dimulailah zaman Renaissance-nya
Eropa. Perguruan Tinggi Oxford dan Cambridge di Inggris merupakan tiruan dari
lembaga pendidikan di daerah Andalusia yang menggabungkan pendidikan, pusat
riset, dan perpustakaan.
Sebagaimana halnya siswa belajar pendidikan pada
tingkat rendah (Kuttab) juga mempunyai kesempatan seluas-luasnya melanjutkan
pendidikan pada tingkat tinggi yaitu Universitas Cordova yang berdiri megah di
Andalusia. Unversitas Cordova berdiri tegak bersanding dengan Masjid
Abdurrahman III. yang akhirnya berkembang menjadi lembaga pendidikan tinggi
yang terkenal yang setara dengan Uniersitas Al-Azhar di Cairo dan
Universitas Nizamiyah di Bagdad. Unversitas Cordova memiliki perpustakaan yang
menampung sekitar empat juta buku dan meliputi buku astronomi, matematika,
kedokteran,teologi dan hukum, jumlah muridnya mencapai seribu orang. Selain itu
terdapat Universitas Sevilla, Malaga dan Granada. Para mahasiswa
diajarkan tiologi, hukum Islam, kedokteran, kima, filsafat dan astronomi.
a. Filsafat
Puncak pencapaian intelektual Muslim Spanyol terjadi
dalam pemikiran filsafat. Dalam bidang ini, Muslim Andalusia merupakan mata
rantai yang menghubungkan antara filsafat Yunani klasik dengan pemikiran
Latin-Barat. Perhatian dan minat pada masa Islam Andalusia baik terhadap
filsafat pada khususnya maupun terdapat Ilmu pengetahuan pada umumnya
telah mulai dikembangkan pada abad ke-9 M. Selama pemerintahan bani Umayyah
yang ke-5, Muhammad ibn Abd. Rahman (832-886 M), sehingga tercatat pada abad
ke-12 M Islam di Andalusia mempunyai peran sebagai jembatan penyeberangan yang
dilalui ilmu pengeahuan Yunani –Arab ke Eropa.
Selain itu, muslim Andalusia juga turut andil besar
dalam mendamaikan antara agama dengan ilmu, akal dengan iman yang sekaligus
menandai akhir abad kegelapan Eropa. Pada kekhalifahan al-Hakam II (961-976M)
ribuan karya ilmiah filosofis di impor dari Timur. Karya-karya tersebut
terhimpun dalam perpustakaan pribadinya. Kebijakan al-Hakam yang mendukung
terciptanya lingkungan intelektual inilah yang pada akhirnya turut serta
membidani lahirnya folosof-filosof besar sesudahnya, sehingga Cordova dengan
perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Bagdad sebagai
pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam.
Apa yang dilakukan oleh
pemimpin Dinasti Umayyah di Andalusia ini merupakan
persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Tokoh utama dalam sejarah filsafat Arab Spanyol adalah Abu Bakar Muhammad ibnu
al-Sayigh yang lebih dikenal dengan. ibnu Bajjah, dilahirkan di Saragosa, ia
pindah ke Sevilla dan Granad, meninggal kare na keracunan di Fez tahun 1138 M
dalam usia yang masih muda. Seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina di Timur, masalah
yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Ibnu Bajjah banyak menulis
tafsir mengenai filsafat Aristoteles. Bukunya yang terkenal adalah Tadbir al-
Mutawwahid yang berisi tentang kritik terhadap filsafat al-Gazali yang
mengatakan bahwa kebenaran itu dicapai melalui jalan sufi. Tokoh yang lainnya
terdapat nama Abu Bakr ibnu Thufil, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil
sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut pada tahun 1185 M, ia banyak
menulis masalah kedokteran, astronomi dan filasafat. Karya folsafatnya
yang tekenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
Pada akhir abad ke-12 M muncul seorang pengikut
Aristoteles yang terbesar dalam kalanganfilsafat Islam, dia adalah Abu al-Walid
Muhammad ibnu Ahmad ibnu Muhammad Rusyd dilahirkan di Cordova, Andalus pada
tahun 510 H/1126 M. Beliau terkenal dengan nama singkat Ibn Rusyd, ia ahli
dalam ilmu hukum sehingga diangkat menjadi ketua Mahkamah Agung di Cordova.
Meskipun Ibnu Rusyd banyak memusatkan perhatiannya pada filsafat Aristoteles,
ia juga menulis beberapa buku. Dalam bidang kedokteran misalnya menulis buku
yang berjudul Al-Kulliat, selanjutnya bidang filsafat bukunya berjudul Tahaful
al-Tahaful dan filsafat al Naql dan dalam bidang ilmu terdapat Karya besarnya
yang termasyhur berjudul Bidayah al- Mujtahid.
b. Sains
Membicarakan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi di Andalusia, tak
bisa lepas dari kerja besar pembangunan peradaban yang dilakukan para
pembawa risalah Islam ke kawasan Eropa itu. Tak bisa juga dipisahkan dari
kajian etika serta syari’at Islam yang didakwahkan para da’i. Itulah yang
mendorong semangat para ilmuwan Muslim Andalusia: Pengetahuan itu satu karena
dunia juga satu, dunia satu karena Allah juga satu. Prinsip “tauhid” semacam
ini yang menjadi koridor berpikir para ilmuwan muslim dalam mengembangkan sains
dan teknologi.
Perkembangan sains di Andalusia sangat pesat yang
ditandai dengan munculnya berbagai macam bidang ilmu pengetahuan diantaranya
ilmu kedokteran, matematika, kimia, musik, astronomi dan lain-lainya. Adapun
tokoh termasyhur pada saat itu adalah Abbas ibn Farnas dalam ilmu kimia
dan astrouhuhtnomi, ia orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu.
Dalam bidang astronomi, terkenal nama- nama az-
Zarqali (1.1029). Di toledo Abdul Qasim Maslama bin Ahmad al- Farabi al- Habib
al- Majriti (w.1007) di Cordoba yang merupakan terkemuka muslim Andalusia
angkatan pertama. Selain itu, muncul Jabir bin Aflah Abu Muhammad (w.1204), di
Sevilla yang menulis kitab al- Hai’a , yang membuat angka -angka
trigomometrik yang masih di gunakan sampai sekarang, dan Nuruddin Abu Ishaq al-
Bitruji (w. 1204 ). yang menulis kitab Al- Hai’a. Karya- karya para
Astronom muslim ini telah banyak menyumbangkan istilah yang berasal dari bahasa
Arab ke dalam pembendaharaan ilmu Astronomi dan matematika.
Sebagaimana telah di kemukakan bahwa
tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam, adalah sebagai
akibat dari berpadunya unsure-unsur pembawaan ajaran islam dengan unsur-unsur
yang berasal dari luar. Kemudian potensi pembawaan islam tidak merasa cukup
hanya menerima pengaruh dari luar saja, tetapi bahkan kemudian mengembangkannya
lebih jauh, sehingga nampak adanya unsure-unsur islami yan dominan akhirnya, berkembanglah berbagai bidang ilmu
pengetahuan.
Dalam bidang filsafat Ketuhanan, atau theologi, berkembang ilmu
kalam, dan berbagai macam pola pemikirannya. Dari pola pemikiran
tradisionalis yang bersifat skolastik,
yang mengembangkan faham Jabbariyah, di sempurnakan oleh Asy’ariyah sampai
kepada mereka yang menamakan dirinya Ahl al-sunnah wal Jama’ah. Berlawanan
dengan itu berkembang pola pemikiran
rasional, dengan bertolak dari pandangan Qadariyah sebagaimana yang di kembang
oleh aliran Mu’tazilah yang kemudian di kembangkan oleh pada umumnya
filosofi-filosofi Islam timbul pula aliran ilmu kalam yang mempunyai pola piker
tradisionalis dengan pola piker rasional, sebagaimana yang Nampak pada aliran
Maturidiyah, di samping aliran Theologi Islam yang mempunyai corak khusus
sebagaimana yang di kembangkan oleh golongan Syi’ah.[7]
Semua aliran pemikiran tersebut selalu berusaha untuk saling
berebut pengaruh dan mendapatkan dukungan dari pemerintah. Ada masanya aliran
Mu’tazilah berhasil mendapatkan dukungan sebagaimana pada zamannya Al-Makmun,
sehingga aliran ini mendapatkan kesempatan berkembang luas di dunia islam.
Tetapi ada kalanya pula aliran lain yang mendapatkan dukungan sehingga bisa
mengalahkan pengaruh aliran yang mulanya berkembang. Demikianlah silih berganti
aliran-aliran tersebut mendapatkan dukungan dari para penguasa. Sehingga
aliran-aliran tersebut nampak sebagai kekayaan budaya spiritual islam yang
beraneka ragam, tetapi semuanya berasal dari sumberyang satu.
Filsafat alamaiah yang pada mulanya berasal dari luar islam (sebagian besar dari filsafat Yunani),
mendapatkan tempat dalam dunia islam, karena memang ajaran Al-Qur’an sendiri
mendorong sepenuhnya pemikiran-pemikiran filosofi terhadap alam semesta. Bahkan
kemudian kaum muslimin mengembangkan lebih jauh dengan mengadakan
penelitian-penelitian dan observasi lebih langsung. Hasilnya, adalah timbulnya
sebagai macam cabang ilmu-ilmu ilmiah, seperti fisika, biologi, kedokteran,
pengobatan, kimia, astronomi, dan sebagainya. Demikian pula pola berfikir
rasional yang di kembangkan oleh para ahli di kalangan umat islam, mengembang
Ilmu Mantiq, Matematika dan sebagainya.
Sebagai hasil perkembangan pemikiran dan ilmiah di kalangan kaum
muslimin pada masajayanya, yang kemudian secaraberangsur-angsur ke dunia Barat,
sebagai berikut :
a)
Dalam
bidang matematika, telah dim kembangkan oleh para sarjana muslim berbagai
cabang ilmu pengetahuan, seperti Teori Bilangan, Aljabar, Geometri Analit, dan
Trigonometri.
b)
Dalam
bidang fisika, mereka telah berhasil mengembangkan ilmu Mekanik dan Optika.
c)
Dalam
bidang kimia, telah berkembang ilmu kimia.
d)
Dalam
bidang Astronomi, kaum muslimin telah memiliki Ilmu Mekanik Benda-benda Langit.
e)
Dalam
bidang geologi, para ahli ilmu pengetahuan muslim telah mengembangkan Geodesi, Mineralogi,
dan Meterologi.
f)
Dalam
bidang biologi, mereka telah memiliki ilmu-ilmu
Phisiologi, Anatomi, Botani, Zoologi, Embriologi dan Pathologi.
g)
Dalam
bidang sosial, telah pula berkembang Ilmu Politik.
Dari segi metodologi ilmiah, yang di
kembangkan oleh dunia Barat sekarang. Pola
berfikir
rasional, sebenarnya di kenal oleh ahli-ahli fikir Barat lewat pembahasan
ahli-ahli filsafat Islam terhadap filsafat Yunani yang di lakukan antara lain
oleh Al-Kindi (809-873 M), Al-farabi (881-961 M), Ibnu Sina (980-1037 M) dan
Ibnu Rusyd (1126-1198 M). Demikian pula pola berfikir empiris yang di dunia
Barat di kenal lewat tulisan Francis Bacon (1561-1626 M), semula berasal dari
sarjana-sarjana islam.
Ilmu pengetahuan mendapatkan
pengalaman dan hubungan langsung dengan Tuhan sebagai realitas mutlak, yang
disebut sebagai metode sufisme, sebagaimana yang dikembangkan oleh Al-Ghazali. Di samping itu, metode
observasi (dalam observatium), metode historis (sejarah) sebagimana yang di
kembangkan oleh Ibnu Khaldun.
Dalam bidang kebudayaan pada umunya
islam telah mempersembahkan kepada dunia, suatu tingkat budaya tinggi yang
menjadi mercusuar budaya umat manusia beberapa abad sesudahnya. Dalam bidang
arsitektur sangat menonjol bangunan-bangunan masjid dan istana-istana yang indah.
Dalam seni ukiran dan sulaman, Nampak dalam bentuk keindahan dalam ukiran kayu
dan marmaryang di gunakai dalam berbagai bangunan masjid dan istana-istana,
dalam bentuk permadani serta barang-barang tenunan yang indah-indah yang
terkenal pada masa itu. Seni musik dan seni lukis, apalagi seni sasteranya,
dunia islam di hiasi dengan serba keindahan yang mempesona dunia pada masanya.[8]
Demikianlah dunia islam di masa
jayanya, yang dihiasi dengan berbagai unsure budaya dan ilmu pengetahuan yang
beraneka ragam, dapat di ibaratkan sebagai taman yang indah penuh dengan
berbagai macam tanaman dengan buah dan bunga yang beraneka warna, dilengkapi
dengan sarana berbagai rekreasi yang mengasyikkan. Keadaan demikian
berlangsung, sampai pada suatu saat bangsa-bangsa Eropa berusaha untuk
merembeskan kekayaan kebudayaan tersebut ke Barat, dan bersamaan waktu dan
datangnya bangsa Timur (bangsa Moghul) untuk menghancurkan dan memusnakannya.
Peristiwa mundurnya kaum muslimin dari Spanyol dan keruntuhan Baghdad dengan segala
akibatnya adalah merupakan masa semakin memudarnya mercusuar kebudayaan islam.
4.
Masa Kemunduran Pendidikan Islam di Andlusia dan Sisilia
Penyebab
Kemunduran dan Kehancuran
Beberapa penyebab kemunduran dan kehancuran
Umat Islam di Spanyol di antaranya
konflik Islam dengan Kristen, tidak adanya
ideologi pemersatu, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan
kekuasaan, dan keterpencilan.
1. Konflik Islam dengan Kristen
Para penguasa muslim tidak melakukan islamisasi secara sempurna.
Mereka sudah merasa puas dengan taklukannya dan membiarkan mereka
mempertahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki tradisional, asal
tidak ada perlawanan bersenjata. Namun demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen. Hal itu menyebabkan kehidupan negara Islam di Spanyol tidak pernah
berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Pada abad
ke-11 M umat Kristen memperoleh
kemajuan pesat, sementara umat Islam sedang mengalami kemunduran.
2. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Kalau di tempat-tempat lain para muallaf diperlakukan
sebagai orang Islam yang
sederajat, di Spanyol, sebagaimana
politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi.
Setidak-tidaknya sampai abad ke-10 M, mereka masih memberi istilah 'ibad dan muwalladun kepada para muallaf itu, suatu
ungkapan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non-Arab
yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan
dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi negeri tersebut. Hal ini
menunjukkan tidak adanya ideologi yang dapat memberi makna persatuan, disamping
kurangnya figur yang dapat menjadi personifikasi ideologi itu.
3. Kesulitan Ekonomi
Di paruh kedua masuk Islamdi spanyol, para
penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat
"serius", sehingga lalai membina perekonomian. Akibatnya timbul
kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan menpengaruhi kondisi politik dan
militer
Sepanjang sejarahnya sejak awal dalam pemikiran islam terlihat dua
pola yang saling berlomba mengembangkan diri dan mempunyai pengaruh besar dalam
pengembangan pola pendidikan umat islam. Dari pola pemikirannya yang bersifat
tradisional yang selalu mendasarkan diri pada wahyu, yang kemudian berkembang
menjadi pola pemikiran sufistis dan mengembangkan pola pendidikan sufi. Pola
pendidikan ini sangat memperhatikan aspek-aspek batiniyah dan akhlak atau budi
pekerti manusia. Sedangkan dari pola pemikiran yang rasional, yang mementingkan
akal fikiran, menimbulkan pola pendidikan empiris rasional. Pola pendidikan
bentuk kedua ini sangat memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasa
material.
Pada masa jayanya pendidikan islam, kedua pola pendidikan tersebut
menghiasi dunia islam, sebagai dua pola yang berpadu dan saling melengkapi.
Setelah pola pemikiranrasional di ambil alih pengembangannya oleh dunia Barat
(Eropa) dan dunia islam pun meninggalkan pola berfikir tersebut, maka dalam
dunia islam tinggal pola pemikiran sufitis, yang sifatnya memang sangat
memperhatikan kehidupan batin, sehingga mengabaikan perkembangan dunia
material. Pola pendidikan yang yang di kembangkannya pun tidak lagi
mengahasilkan perkembangan budaya islam yang bersifat material. Dari aspek
inilah dikatakan pendidikan dan kebudayaan Islam mengalami kemunduran, atau
setidak-tidaknya dapat dikatakan pendidikan islam mengalami kemandegan.
Kehancuran total yang dialami kota Baghdad dan
Granada sebagai pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan Islam, menandai runtuhnya
sendi-sendi pendidikan dan kebudayaan islam. Musnahnya lembaga-lembaga
pendidikan dan semua buku-buku ilmu pengetahuan dari kedua pusat pendidikan di
bagian Timur dan Barat Islam tersebut, menyebabkan pula kemunduran pendidikan
di seluruh dunia islam, terutama dalam bidang intelektual dan material, tetapi
tidak demikian halnya dalam bidang kehidupan batil atau spiritual.
Kehancuran dan kemunduran yang dialami uamt islam, terutama dalam
bidang kehidupan intelektual dan material ini, dan berahlinya secara drastis
pusat-pusat kebudayaan dari dunia islam ke Eropa, menimbulkan rasa lemah diri
dan putus asa di kalangan masyarakat kaum muslimin. Ini telah menyebabkan
mereka selalu mencari pengangan dan sandaran hidup yang bisa mengarahkan
kehidupan mereka. Aliran pemikiran tradisionalisme dalam islam mendapatkan
tempat di hati masyarakat secara meluas. Mereka kembalikan segala sesuatunya
kepada Tuhan. Dalam bidang fiqih, yang terjadi adlah yang berkembangnya taqlid
buta di kalangan umat. Dengan sikap hidup yang fatalistis tersebut, kehidupan
mereka sangat statis, tidak ada problem-problem baru dalam bidang fiqih. Apa
yang sudah ada dalam kitab-kitab Fiqih lama di anggapnya sebagai sesuatu yang
sudah baku, mantap dan benar, dan harus diikuti serta dilaksanakan sebagaimana
adanya.
DAFTAR PUSTAKA
Yokyakarta: LESFI, 2004.
- Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri
Jejak Sejarah Pendidikan
Era Rasulullah sampai Indonesia. Jakarta: Kencana , 2008.
- Sou’yb, Yoesoef, Sejarah Daulat Abbasiyah.
Jakarta: Bulan Bintang, 1977.
- Prof.
Dr.Hj.Sunanto Musyrifah. Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Islam
Islam. Jakarta : Kencana, 2007
- Zuhairini, Dra, Dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara, 2004
Departement Agama Republik
Indonesia. Jakarta,
2006
- Drs.Abdullah Fadjar Rozy Dalimunthe. Peradaban dan Pendidikan Islam : Jakarta, 2007
Akbar Media Eka Sarana, 2003
- Maryam, Siti, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik hingga Modern.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar