Sabtu, 15 Juni 2013

POLA PENDIDIKAN ISLAM DI ANDALUSIA DAN SISILIA


A.    PENDAHULUAN
Negeri di Andalus (spanyol) sejak dari abad VIII Masehi merupakan salah satu  pondasi
yang kuat  dari peradaban, kebudayaan dan pendidikan Islam, yang di mulai dengan mempelajari ilmu agama dan satra, kemudian meningkat dengan mempelajari ilmu-ilmu  akal. Karena, dalam waktu relative singkat Cordova dapat menyaingi kota Baghdad dan kairo dalam bidang pengetahuan dan kesustraan. Pada masa pemerintahan Abdurrahman  III pada abad X  Masehi, negeri Andalus telah mencapai puncak kemegahan dalam segi materi dan maknawi serta memperoleh kekuataan dan kebesaran yang telah di capai oleh kerajaan-kerajaan di bagian Timur abad IX Masehi.
            Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya menghasilkan para pemikir hebat. Masyarakat spanyol islam merupakan masyarakat yang majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun (orang-orang spanyol yang masuk islam), Barbar (orang islam dari afrika utara), al-shaqalibah (penduduk antar konstaninopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa islam untuk di jadikan tentara bayaran, yahudi ,  Kristen Muzareb yang berbudaya arab, dan Kristen yang masih menentang agama islam. Semua komunitas itu kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik spanyol.


Sistem pendidikan islam yang terjadi di Andalusia dan sisilia yang mencakup keberadaan

Dalam perkembangan kebudayaan islam, nampak adanya dua faktor yang saling mempengaruhi, yaitu faktor intern atau pembawaan dari ajaran islam itu sendiri, dan faktor ekstern, yaitu berupa tantangan dari luar. Tetapi, sebenarnya pengaruh dari luar tersebut, hanyalah berupa sekedar sebagai tantangan saja, agar potensi pembawaan dariajaran islam itu sendiri bisa tumbuh dan berkembang. Yang paling menetukan jiwa dan semangat kaum muslimin, terutama para ahlinya dalam penghayatan dan pengalaman ajaran islam sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an.
Banyak ayat-ayat al-qur’an yang di hayati dan dilaksanakansesuai dengan jiwa dan semangatnya memang akan menghasilkan perkembangan budaya yang tinngi yang mengarah kepada rahmatan lil ‘alamin. Tetapi, manakala umat islam telah kehilangan semangat dan jiwa al-qur’an, dan sudah tidak memperhatikan dan mengabaikan penghayatan dan pengalamanya secara benar, akan berhenti dan mendengar kebudayaan islam, sebagimana yang nampak pada masa kemunduran kebudayaan islam.

1.      Berkembangnya Lembaga-lembaga Pendidikan Islam
Sebelum timbulnya sekolah dan universitas yang kemudian[1] dikenal sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia islam. Sebenarnya telah berkembang lembaga-lembaga pendidikan islam yang bersifat non formal. Lembaga-lembaga ini berkembang terus dan bahkan bersamaan dengan tumbuh dan berkembanganya  bentuk-bentuk lembaga pendidikan non formal yang semakin luas. Di antara lembaga-lembaga pendidikan islam yang bercorak non formal tersebut adalah :
a.       Kuttab Sebagai Lembaga Pendidikan Dasar
Sewaktu agama islam di turunkan Allah sudah ada di antara para sahabat yang
pandai baca dan tulis. Kemudian tulis baca tersebut ternyata mendapat tempat dan dorongan yang kuat dalam islam, sehingga berkembang luas di kalangan umat islam. Ayat Al-Qur’an yang pertama di turunkan, telah memerintahkan untuk membaca dan menulis dan memberikan gambaran bahwa kepandaian membaca dan menulis merupakan sarana utama dalam pengembangan Ilmu pengetahuan dalam pandangan islam. Pengajaran Al-Qur’an sejak awalnya juga telah memerlukan kepandaian tulis baca, walau pada mulanya Rasullah melarang untuk menuliskan selain Al-Qur’an.
Sejak Islam pertama kali menginjakkan kakinya di Andalusia hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir dan sekitar tujuh setengah abad lamanya, Islam memainkan peranan yang besar, baik dalam bidang Intelektual (filsafat, sains, fikih, musik dan kesenian, bahasa dan sastra) juga kemegahan bangunan fisik (Cordova dan Granada). Umat muslim Andalusia telah menoreh catatan sejarah yang mengagumkan dalam bidang intelektual, banyak perestasi yang mereka peroleh khususnya perkembangan pendidikan Islam. Pertumbuhan lembaga-lembaga pendidikan Islam sangat tergantung pada penguasa yang menjadi pendorong utama bagi kegiatan pendidikan. Di Andalusia menyebar lembaga pendidikan yang dinamakan Kuttab selain Masjid. Kuttab termasuk lembaga pendidikan terendah yang sudah tertata dengan rapi dan para siswa mempelajari berabagai macam disiplin Ilmu Pengetahuan diantaranya :
a.        Fikhi.
Oleh karena umat Islam di Andalusia penganut Mazhab Maliki, maka para siswa mendapatkan materi –materi pelajaran fikhi dari Imam Mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini adalah Ziyad ibn Abd. Al-Rahman, perkembangan selanjutnya dilakukan seorang qadhi pada masa Hisyam ibn abd. Al-Rahman yaitu Ibnu Yahya. Dan masih banyak ahli-ahli fikhi lainnya diantaranya Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir ibn Sa’id al-Baluthi dan ibn Hazam. Yang sangat populer saat itu.
b.      Bahasa dan Arab
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Andalusia, hal ini dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non Islam, bahkan penduduk asli menomorduakan bahasa asli mereka, para siswa diwajibkan berdialog dengan melalui bahasa arab, sehingga bahasa ini cepat populer dan menjadi bahasa keseharian. Mereka yang ahli dan mahir bahasa Arab baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa adalah Ibn Sayyidih, Ibn Malik yang mengarang Al-fiyah, Ib Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur dan Abu Hayyan al- Gharnathi. Seiring kemajuan di bidang bahasa , muncul banyak karya sastra seperti Al-Íqd al-Farid karya Ibn Abd. Rabbih, al-Dzakhirah fi Mahasin ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn Khaqan dan banyak lagi yang lain.
c.        Seni Musik Dan Seni Suara
Dalam bidang musik dan suara, Islam di Andalusia mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab. Ia selalu tampil mempertunjukan kebolehannya. Kepawaiannya bermusik dan seni membuat ia menjadi orang termasyhur dikala itu, ilmu yang dimilikinya diajarkan kepada anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan dan juga kepada para budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
d.      Pendidikan Rendah di Istana
Timbulnya pendidikan rendah di istana untuk anak-anak para pejabat, adalah berdasarkan pemikiran bahwa pendidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya kelak setelah ia dewasa.[2] Atas dasar pemikiran tersebut, khalifah dan keluarganya serta para pembesar istana lainnya berusaha menyiapkan agar anak-anaknya sejak kecil sudah di perkenalkan dengan lingkungan dan tugas-tugas yang akan dimilikinya nanti.
e.       Took-toko Kitab
Tokoh-tokoh kitab tersebut telah berkembang fungsinya bukan hanya sebagai tempat berjual beli kitab-kitab saja, tetapi juga merupakan tempat berkumpulnya para ulama, pujangga dan ahli-ahli ilmu pengetahuan lainnya.
f.       Rumah-rumah Para Ulama (ahli ilmu pengetahuan)
Walaupun, rumah bukanlah merupakan tempat yang baik untuk tempat memberikan pelajaran kepada manusia, namun pada zaman kejayaan perkembanganilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, banyak juga rumah-rumah para ulama dan para ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.




g.      Rumah Sakit
Rumah saikt ini juga merupakan tempat praktikum dari sekolah kedokteran yang didirikan di luar rumah sakit, tetapi tidak jarang pula sekolah-sekolah kedokteran tersebut didirikan tidak terpisah dari rumah sakit. Dengan demikian rumah sakit dalam dunia islam, juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.

2.      Sistem Pendidikan Sekolah-sekolah Islam Di Andalusia dan Sisilia

Sebenarnya timbul lembaga pendidikan formal dalam bentuk sekolah-sekolah dalam dunia islam, adlah merupakan pengembangan semata-mata dari sistem pengajaran dan pendidikan yang telah berlangsung di masjid-masjid, yang sejak awal telah berkembang dan dilengkapi dengan saran dan prasarana untuk memperlacar pendidikan dan pengajaran di dalamnya.
Diantara faktor-faktor yang menyebabkan berdirinya sekolah-sekolah di luar mesjid adalah bahwa :
a)      Khalaqah-khalaqah (lingkaran) untuk mengerjakan berbagai ilmu pengetahuan, yang di dalamnya juga terjadi diskusi dan perdebatan yang ramai, sering satu sama lain saling mengganggu, di samping sering pula orang-orang yang beribadah di dalam mesjid.[3] Keadaan demikian, mendorong untuk di pindahkannyakhalaqah-khalaqah tersebut di luar lingkungan di mesjid, dan didirikanlah bangunan-bangunan seba[4]gai ruang-ruang kulih atau kelas-kelas yang tersendiri. Dengan demikian kegiatan pengajaran dari khalaqah-khlaqah tersebut tidak saling mengganggu satu sama lain.
b)      Dengan berkembang luasnya ilmu pengetahuan, baik mengenai agama maupun umum maka di perlukan semakin banyak khalaqah-khlaqah (lingkaran-lingkaran pengajaran), yang tidak mungkin keseluruhan terampung dalam ruang mesjid.
Di samping itu terdapat faktor-faktor lainnya, yang mendorong bagi para penguasa dan pemegang pemerintahan pada masa itu untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai bangunan-bangunan yang terpisah dari mesjid. Antara lain adalah :
a.       Mereka mendirikan sekolah-sekolah yang mereka dirikan. Dengan harapan untuk mendapatkan simpati dari rakyat umumnya, juga berharap mendapatkan ampunan dan pahala dari tuhan.
Para pembesar negara pada masa itu, dengan kekayaan mereka yang luar biasa, banyak yang hidup kemewahan dan sering pula berbuat maksiat. Dengan mendirikan sekolah-sekolah dan membiayainya secukupnya, berarti mereka telah mewkafkan dan membelanjakan harta bendanya di jalan allah. Mereka berharap hal yang demikian dapat menjadi penebus dosa dan maksiat yang telah mereka kerjakan.
b.      Para pembesar negara pada masa itu dengan kekuasannya, telah berhasil mengumpulkan harta kekayaan yang banyak. Mereka khawatir kalu nantinya kekayaan tersebut tidak bisa di wariskan kepada anak-anaknya, karena di ambil oleh sultan.[5] Anak-anak mereka akan menjadi terlantar dan hidup dalam kemiskinan.
Untuk menghidari hal tersebut, mereka mendirikan madrasah-madrasah yang dilengkapi dengan asrama-asrama, dan di jadikan sebagai wakaf keluarga. Anak-anak dan kaum kelurgalah yang berhak mengurus harta kekayaan wakaf tersebut, sehingga kehidupan mereka dengan demikian akan tetap terjamin.
c.       Disamping itu, didirikannya madrasah-madrasah tersebut ada hubungannya dengan usaha untuk mempertahankan dan mengembangkan aliran keagamaan dari para pembesar Negara yang bersangkutan. Dalam mendirikan sekolah ini, mereka mempersyaratkan harus di ajarkan aliran keagamaan tersebut akan berkembang dalam masyarakat.
Walau bagaimanapun motivasinya, namun jelas bahwa dengan berkembangnya madrasah-madrasahkarena muslimin telah mendapatkan kesempatan yang luas untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

            Dengan berdirinya madrasah-madrasah tersebut, lengkaplah lembaga pendidikan islam yang bersifat formal, mulai dari tingkat dasar yaitu kuttab sampai tingkat menegah dan tingkat tinggi. Lembaga-lembaga pendidikan formal ini belum mempunyai kurikulum yang seragam, tetapi masih bervariasi antara madrasah satu dengan lainnya. Hal ini sangat tergantung kepada keahlian guru-gurunya, pandangan tentang kepentingan suatu ilmu pengetahuan, dan berhubungan dengan perhatian dari pada pembesar pendiri sekolah-sekolah atau madrasah yang bersangkutan.    
Pokok-pokok rencana peljaran berbagai tingkatan pendidikan tersebut sebagai berikut :
a)      Rencana pelajaran kuttab (pendidikan dasar)
1.      Membaca Al-Qur’an dan mengahafalnya.
2.      Pokok agama islam, seperti cara mengerjakan wudhu, shalat, puasa dan sebagainya.
3.      Menulis
4.      Kisah atau riwayat orang-orang besar islam.
5.      Mebaca dan mengahafal syair-syair atau natsar (prosa).
6.      Berhitung.
7.      Pokok-pokok nahwu dan sharaf ala kadarnya.

Lama belajar  di kuttab ini, tidaklah sama, tergantung kepada kecerdasan dan kemampuan
masing-masing anak, karena sistem pengajaran pada masa itu belum di laksanakan secara klasikal sebagaimana umumnya sistem pengajaran sekarang ini. Tetapi pada umumnya, anak-anak menyelesaikan pendidikan dasar ini selama kurang lebih 6 tahun.

b)      Rencana Pelajaran  Tingkat  Menengah
Rencana pelajaran untuk pendidikan tingkat menegah pun tidak adakeseragaman
diseluruh negara Islam, karena pada itu telah bercerai berai satu dengan lainnya. Pada umumnya  rencana pelajaran tersebut meliputi mata pelajaran yang bersifat umum, sebagai berikut :
1.      Al-Qur’an
2.      Bahasa Arab dan kesusteraannya
3.      Fiqih
4.      Tafsir
5.      Hadits
6.      Nahwu/sharaf/balaghah
7.      Ilmu-ilmu pasti
8.      Mantiq
9.      Ilmu falak
10.  Tarikh (sejarah)
11.  Ilmu-ilmu alam
12.  Kedokteran
13.  Musik
Disamping itu ada mata pelajaran yang bersifat kejujuran, misalnya untuk menjadi juru
tulis kantor-kantor. Selain dari belajar bahasa, murid di sini harus belajar surat menyurat, pidato, diskusi, berdebat, serta tulisan indah.
            Selanjutnya dari pandangan Ibnu Sina mengatakan tengang pelajaran pendidikan menegah kejuruan ini sebagai berikut :
“Hendaklah guru mengetahui, bahwa tiap-tiap perusahaan yang di kehendaki anak-anak, tidaklah semua mungkin dan mudah dilaksanakannya. Tetapi, hanya yang sebentuk dan yang sesuai dengan tabi’atnya (bakatnya). Kalau sekiranya semua sastra dan perusahaan dapatdan mudah di laksanakan oleh tiap-tiap orang, meskipun tidak sesuai denga bakatnya tentu semua orang bisa menjadi ahli sastra dan ahli perusahaan. Sebagai bukti perkataan kita itu, ialah bahwa sebagaian sastra mudah bagi setengah orang dan sukar bagi yang lain. Oleh sebab itu kita lihat,ada orang yang mudah baginya mempelajari balaghah, yang lain mudah baginya mempelajari nahwu,yang lain mudah baginya syair, dan yang lain lagi memilih ilmu kedokteran dan begitulah seterusnya.
Kadang-kadang ada pula orang yang tak ingin kepada sastra dan perusahaan sama sekali, sehingga ia  tidak mengerti bila di ajarkan kepadanya. Oleh sebab itu hendaklah lebih dahulu pendidik anak-anak mempertimbangkan[6] dan memperhatikan tabi’at (bakat) anak-anak, bila ia hendak memilih suatu perusahaan, serta di salami kecenderungan hatinya dan di test kecerdasannya. Kemudian baru di pilih baginya suatu perusahaan yang sesuai dengan bakat dan kecerdasan itu. Itulah yang lebih baik, supaya jangan terbuang percuma umur anak-anak dalam melakukan perusahaan yang tidak sesuai dengan bakat dan kecerdasannya”.

c)      Rencana Pelajaran Pada Pendidikan Tinggi
Pada umumnya rencana pelajaran pada perguruan tinggi Islam, di bagi menjadi
dua jurusan, yaitu :
1.      Jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa serta sastera Arab, yang juga di sebutsebgai ilmu-ilmu Naqliyah, yang meliputi :
a.       Tafsir Al-Qur’an
b.      Hadits
c.       Fiqih dan Ushul fiqih
d.      Nahwu/Sharaf
e.       Balaghah
f.       Bahasa Arab dan Kesusteraannya
2.      Jurusan ilmu-ilmu umum, yang di sebut sebagai Ilmu Aqliyah meliputi :
a.       Mantiq
b.      Ilmu-ilmu alam dan kimia
c.       Musik
d.      Imu-ilmu pasti
e.       Ilmu ukur
f.       Ilmu falak
g.      Ilmu Ilahiyah (ketuhanan)
h.      Ilmu hewan
i.        Ilmu tumbuh-tumbuhan
j.        Kedokteran

Semua mata pelajaran (ilmu-ilmu) tersebut di ajarkan seluruhnya pada perguruan tinggi,
dan belum di adakan takhasus (pendalaman salah satu bidang ilmu). takhasus (pendalaman salah satu bidang ilmu) adalah sesudah seseorang tamat dari perguruan tinggi, dan di sesuaikan dengan bakat dan kecenderungan masing-masing.

3        Puncak Kemajuan Ilmu Kebudayaan Islam

Puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:
a.       Maktab/Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa.
b.      Tingkat pendalaman, dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana.
Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Disamping itu, kemajuan itu paling tidak, juga ditentukan oleh dua hal, yaitu :
a.      Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sebagaimana sudah disebutkan, sangat kuat di bidang pemerintahan. Disamping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.
b.      Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma'mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut, terutama melalui gerakan terjemahan, bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum, tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Dalam bidang tafsir, sejak awal sudah dikenal dua metode, penafsiran pertama, tafsir bi al-ma'tsur, yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. Kedua, tafsir bi al-ra'yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi, (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat mempengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut.
Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah. Imam Abu Hanifah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun Ar-Rasyid. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi'i (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M) yang mengembalikan sistim madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab. Disamping empat pendiri madzhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab-nya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman.
Aliran-aliran yang sudah ada pada masa Bani Umayyah, seperti Khawarij, Murji’ah dan Mu'tazilah pun ada. Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Teologi rasional Mu'tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. Namun, pemikiran-pemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama, setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam. Tokoh perumus pemikiran Mu'tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan al-Nazzam (185-221 H/801-835M). Asy'ariyah, aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari (873-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. Ini terjadi, karena al-Asy'ari sebelumnya adalah pengikut Mu'tazilah. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Penulisan hadits, juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja.
Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Farghani, yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. Ar-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Diantara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah.
Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata. Di bidang kimia, terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Kata aljabar berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoibalah. Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas'udi. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Diantara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma'aadzin al-Jawahir.
Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat, yang terkenal diantaranya ialah asy-Syifa'. Ibnu Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme. Pada masa kekhalifahan ini, dunia Islam mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan, sastra, dan filosofi dari Yunani, Persia, dan Hindustan.
Banyak golongan pemikir lahir zaman ini, banyak diantara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu, dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. Tambahan pula, pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi, matematika, dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya.
Kemajuan intelektual Al-Andalus bermula dari perseturuan intelektual antara Bani Umayyah yang menguasai Al-Andalus, dengan Bani Abbasiyah yang berkuasa di Timur Tengah. Penguasa Umayyah berusaha memperbanyak perpustakaan dan lembaga pendidikan di kota-kota Al-Andalus seperti Cordova, untuk mengalahkan ibukota Abbasiyah Baghdad. Walaupun Bani Umayyah dn Bani Abbasiyah saling bersaing, kedua kekhalifahan ini mengizinkan perjalanan antara kedua kekhalifahan ini dengan bebas, yang membantu penyebaran dan pertukaran ide serta inovasi dari waktu ke waktu.


2.  Pendidikan Tinggi

Di kawasan Andalusia yang pernah menjadi pusat pemerintahan Islam, juga banyak dibangun banyak perguruan tinggi terkenal seperti Universitas  Cordova, Sevilla, Malaga, Granada dan yang lainnya. Orang-orang Eropa yang pertama kali belajar sains dan ilmu pengetahuan banyak tertarik untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di Andalusia. Sehingga, lahirlah kemudian murid-murid yang menjadi para pemikir dan filosof terkenal Eropa. Sejak itu, dimulailah zaman Renaissance-nya Eropa. Perguruan Tinggi Oxford dan Cambridge di Inggris merupakan tiruan dari lembaga pendidikan di daerah Andalusia yang menggabungkan pendidikan, pusat riset, dan perpustakaan.

Sebagaimana halnya siswa belajar pendidikan pada tingkat rendah (Kuttab) juga mempunyai kesempatan seluas-luasnya melanjutkan pendidikan pada tingkat tinggi yaitu Universitas Cordova yang berdiri megah di Andalusia. Unversitas Cordova berdiri tegak bersanding dengan Masjid Abdurrahman III. yang akhirnya berkembang menjadi lembaga pendidikan tinggi yang terkenal yang setara dengan Uniersitas  Al-Azhar di Cairo dan Universitas Nizamiyah di Bagdad. Unversitas Cordova memiliki perpustakaan yang menampung sekitar empat juta buku dan meliputi buku astronomi, matematika, kedokteran,teologi dan hukum, jumlah muridnya mencapai seribu orang. Selain itu terdapat Universitas  Sevilla, Malaga dan Granada. Para mahasiswa diajarkan tiologi, hukum Islam, kedokteran, kima, filsafat dan astronomi.
a.       Filsafat
Puncak pencapaian intelektual Muslim Spanyol terjadi dalam pemikiran filsafat. Dalam bidang ini, Muslim Andalusia merupakan mata rantai yang menghubungkan antara filsafat Yunani klasik dengan pemikiran Latin-Barat. Perhatian dan minat pada masa Islam Andalusia baik terhadap filsafat pada khususnya maupun terdapat  Ilmu pengetahuan pada umumnya telah mulai dikembangkan pada abad ke-9 M. Selama pemerintahan bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd. Rahman (832-886 M), sehingga tercatat pada abad ke-12 M Islam di Andalusia mempunyai peran sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengeahuan Yunani –Arab ke Eropa.
Selain itu, muslim Andalusia juga turut andil besar dalam mendamaikan antara agama dengan ilmu, akal dengan iman yang sekaligus menandai akhir abad kegelapan Eropa. Pada kekhalifahan al-Hakam II (961-976M) ribuan karya ilmiah filosofis di impor dari Timur. Karya-karya tersebut terhimpun dalam perpustakaan pribadinya. Kebijakan al-Hakam yang mendukung terciptanya lingkungan intelektual inilah yang pada akhirnya turut serta membidani lahirnya folosof-filosof besar sesudahnya, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Bagdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam.
Apa yang dilakukan oleh pemimpin Dinasti Umayyah di Andalusia ini merupakan
persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya. Tokoh utama dalam sejarah filsafat Arab Spanyol adalah Abu Bakar Muhammad ibnu al-Sayigh yang lebih dikenal dengan. ibnu Bajjah, dilahirkan di Saragosa, ia pindah ke Sevilla dan Granad, meninggal kare na keracunan di Fez tahun 1138 M dalam usia yang masih muda. Seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Ibnu Bajjah banyak menulis tafsir mengenai filsafat Aristoteles. Bukunya yang terkenal adalah Tadbir al- Mutawwahid yang berisi tentang kritik terhadap filsafat al-Gazali yang mengatakan bahwa kebenaran itu dicapai melalui jalan sufi. Tokoh yang lainnya terdapat nama Abu Bakr ibnu Thufil, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut pada tahun 1185 M, ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filasafat. Karya folsafatnya  yang tekenal  adalah Hay ibn Yaqzhan.
Pada akhir abad ke-12 M muncul seorang pengikut Aristoteles yang terbesar dalam kalanganfilsafat Islam, dia adalah Abu al-Walid Muhammad ibnu Ahmad ibnu Muhammad Rusyd dilahirkan di Cordova, Andalus pada tahun 510 H/1126 M. Beliau terkenal dengan nama singkat Ibn Rusyd, ia ahli dalam ilmu hukum sehingga diangkat menjadi ketua Mahkamah Agung di Cordova. Meskipun Ibnu Rusyd banyak memusatkan perhatiannya pada filsafat Aristoteles, ia juga menulis beberapa buku. Dalam bidang kedokteran misalnya menulis buku yang berjudul Al-Kulliat, selanjutnya bidang filsafat bukunya berjudul Tahaful al-Tahaful dan filsafat al Naql dan dalam bidang ilmu terdapat Karya besarnya yang termasyhur berjudul Bidayah  al- Mujtahid.
b.      Sains
Membicarakan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Andalusia, tak
bisa lepas dari kerja besar pembangunan peradaban yang dilakukan para pembawa risalah Islam ke kawasan Eropa itu. Tak bisa juga dipisahkan dari kajian etika serta syari’at Islam yang didakwahkan para da’i. Itulah yang mendorong semangat para ilmuwan Muslim Andalusia: Pengetahuan itu satu karena dunia juga satu, dunia satu karena Allah juga satu. Prinsip “tauhid” semacam ini yang menjadi koridor berpikir para ilmuwan muslim dalam mengembangkan sains dan teknologi.
Perkembangan sains di Andalusia sangat pesat yang ditandai dengan munculnya berbagai macam bidang ilmu pengetahuan diantaranya ilmu kedokteran, matematika, kimia, musik, astronomi dan lain-lainya. Adapun tokoh termasyhur  pada saat itu adalah Abbas ibn Farnas dalam ilmu kimia dan astrouhuhtnomi, ia orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu.
Dalam bidang astronomi, terkenal nama- nama az- Zarqali (1.1029). Di toledo Abdul Qasim Maslama bin Ahmad al- Farabi al- Habib al- Majriti (w.1007) di Cordoba yang merupakan terkemuka muslim Andalusia angkatan pertama. Selain itu, muncul Jabir bin Aflah Abu Muhammad (w.1204), di Sevilla yang menulis kitab al- Hai’a , yang membuat angka -angka trigomometrik yang masih di gunakan sampai sekarang, dan Nuruddin Abu Ishaq al- Bitruji (w. 1204 ). yang menulis kitab Al- Hai’a. Karya- karya para Astronom muslim ini telah banyak menyumbangkan istilah yang berasal dari bahasa Arab ke dalam pembendaharaan ilmu Astronomi dan matematika.
Sebagaimana telah di kemukakan bahwa tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam, adalah sebagai akibat dari berpadunya unsure-unsur pembawaan ajaran islam dengan unsur-unsur yang berasal dari luar. Kemudian potensi pembawaan islam tidak merasa cukup hanya menerima pengaruh dari luar saja, tetapi bahkan kemudian mengembangkannya lebih jauh, sehingga nampak adanya unsure-unsur islami yan dominan  akhirnya, berkembanglah berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Dalam bidang filsafat Ketuhanan, atau theologi, berkembang ilmu kalam, dan berbagai macam pola pemikirannya. Dari pola pemikiran tradisionalis  yang bersifat skolastik, yang mengembangkan faham Jabbariyah, di sempurnakan oleh Asy’ariyah sampai kepada mereka yang menamakan dirinya Ahl al-sunnah wal Jama’ah. Berlawanan dengan itu berkembang  pola pemikiran rasional, dengan bertolak dari pandangan Qadariyah sebagaimana yang di kembang oleh aliran Mu’tazilah yang kemudian di kembangkan oleh pada umumnya filosofi-filosofi Islam timbul pula aliran ilmu kalam yang mempunyai pola piker tradisionalis dengan pola piker rasional, sebagaimana yang Nampak pada aliran Maturidiyah, di samping aliran Theologi Islam yang mempunyai corak khusus sebagaimana yang di kembangkan oleh golongan Syi’ah.[7]
Semua aliran pemikiran tersebut selalu berusaha untuk saling berebut pengaruh dan mendapatkan dukungan dari pemerintah. Ada masanya aliran Mu’tazilah berhasil mendapatkan dukungan sebagaimana pada zamannya Al-Makmun, sehingga aliran ini mendapatkan kesempatan berkembang luas di dunia islam. Tetapi ada kalanya pula aliran lain yang mendapatkan dukungan sehingga bisa mengalahkan pengaruh aliran yang mulanya berkembang. Demikianlah silih berganti aliran-aliran tersebut mendapatkan dukungan dari para penguasa. Sehingga aliran-aliran tersebut nampak sebagai kekayaan budaya spiritual islam yang beraneka ragam, tetapi semuanya berasal dari sumberyang satu.
Filsafat alamaiah yang pada mulanya berasal dari luar islam  (sebagian besar dari filsafat Yunani), mendapatkan tempat dalam dunia islam, karena memang ajaran Al-Qur’an sendiri mendorong sepenuhnya pemikiran-pemikiran filosofi terhadap alam semesta. Bahkan kemudian kaum muslimin mengembangkan lebih jauh dengan mengadakan penelitian-penelitian dan observasi lebih langsung. Hasilnya, adalah timbulnya sebagai macam cabang ilmu-ilmu ilmiah, seperti fisika, biologi, kedokteran, pengobatan, kimia, astronomi, dan sebagainya. Demikian pula pola berfikir rasional yang di kembangkan oleh para ahli di kalangan umat islam, mengembang Ilmu Mantiq, Matematika dan sebagainya.
Sebagai hasil perkembangan pemikiran dan ilmiah di kalangan kaum muslimin pada masajayanya, yang kemudian secaraberangsur-angsur ke dunia Barat, sebagai berikut :
a)      Dalam bidang matematika, telah dim kembangkan oleh para sarjana muslim berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti Teori Bilangan, Aljabar, Geometri Analit, dan Trigonometri.
b)      Dalam bidang fisika, mereka telah berhasil mengembangkan ilmu Mekanik dan Optika.
c)      Dalam bidang kimia, telah berkembang ilmu kimia.
d)     Dalam bidang Astronomi, kaum muslimin telah memiliki Ilmu Mekanik Benda-benda Langit.
e)      Dalam bidang geologi, para ahli ilmu pengetahuan muslim telah mengembangkan Geodesi, Mineralogi, dan Meterologi.
f)       Dalam bidang biologi, mereka telah memiliki ilmu-ilmu  Phisiologi, Anatomi, Botani, Zoologi, Embriologi dan Pathologi.
g)      Dalam bidang sosial, telah pula berkembang Ilmu Politik.

Dari segi metodologi ilmiah, yang di kembangkan oleh dunia Barat sekarang. Pola
berfikir rasional, sebenarnya di kenal oleh ahli-ahli fikir Barat lewat pembahasan ahli-ahli filsafat Islam terhadap filsafat Yunani yang di lakukan antara lain oleh Al-Kindi (809-873 M), Al-farabi (881-961 M), Ibnu Sina (980-1037 M) dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M). Demikian pula pola berfikir empiris yang di dunia Barat di kenal lewat tulisan Francis Bacon (1561-1626 M), semula berasal dari sarjana-sarjana islam.
            Ilmu pengetahuan mendapatkan pengalaman dan hubungan langsung dengan Tuhan sebagai realitas mutlak, yang disebut sebagai metode sufisme, sebagaimana yang dikembangkan  oleh Al-Ghazali. Di samping itu, metode observasi (dalam observatium), metode historis (sejarah) sebagimana yang di kembangkan oleh Ibnu Khaldun.
            Dalam bidang kebudayaan pada umunya islam telah mempersembahkan kepada dunia, suatu tingkat budaya tinggi yang menjadi mercusuar budaya umat manusia beberapa abad sesudahnya. Dalam bidang arsitektur sangat menonjol bangunan-bangunan masjid dan istana-istana yang indah. Dalam seni ukiran dan sulaman, Nampak dalam bentuk keindahan dalam ukiran kayu dan marmaryang di gunakai dalam berbagai bangunan masjid dan istana-istana, dalam bentuk permadani serta barang-barang tenunan yang indah-indah yang terkenal pada masa itu. Seni musik dan seni lukis, apalagi seni sasteranya, dunia islam di hiasi dengan serba keindahan yang mempesona dunia pada masanya.[8]
            Demikianlah dunia islam di masa jayanya, yang dihiasi dengan berbagai unsure budaya dan ilmu pengetahuan yang beraneka ragam, dapat di ibaratkan sebagai taman yang indah penuh dengan berbagai macam tanaman dengan buah dan bunga yang beraneka warna, dilengkapi dengan sarana berbagai rekreasi yang mengasyikkan. Keadaan demikian berlangsung, sampai pada suatu saat bangsa-bangsa Eropa berusaha untuk merembeskan kekayaan kebudayaan tersebut ke Barat, dan bersamaan waktu dan datangnya bangsa Timur (bangsa Moghul) untuk menghancurkan dan memusnakannya. Peristiwa mundurnya kaum muslimin dari Spanyol dan keruntuhan Baghdad dengan segala akibatnya adalah merupakan masa semakin memudarnya mercusuar kebudayaan islam.

4.      Masa Kemunduran Pendidikan Islam di Andlusia dan Sisilia
 Penyebab Kemunduran dan Kehancuran

Beberapa penyebab kemunduran dan kehancuran Umat Islam di Spanyol di antaranya konflik Islam dengan Kristen, tidak adanya ideologi pemersatu, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan, dan keterpencilan.

1. Konflik Islam dengan Kristen
Para penguasa muslim tidak melakukan islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata. Namun demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen. Hal itu menyebabkan kehidupan negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Pada abad ke-11 M umat Kristen memperoleh kemajuan pesat, sementara umat Islam sedang mengalami kemunduran.

2. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Kalau di tempat-tempat lain para muallaf diperlakukan sebagai orang Islam yang sederajat, di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi. Setidak-tidaknya sampai abad ke-10 M, mereka masih memberi istilah 'ibad dan muwalladun kepada para muallaf itu, suatu ungkapan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non-Arab yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi negeri tersebut. Hal ini menunjukkan tidak adanya ideologi yang dapat memberi makna persatuan, disamping kurangnya figur yang dapat menjadi personifikasi ideologi itu.

3. Kesulitan Ekonomi
Di paruh kedua masuk Islamdi spanyol, para penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat "serius", sehingga lalai membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan menpengaruhi kondisi politik dan militer
       
Sepanjang sejarahnya sejak awal dalam pemikiran islam terlihat dua pola yang saling berlomba mengembangkan diri dan mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan pola pendidikan umat islam. Dari pola pemikirannya yang bersifat tradisional yang selalu mendasarkan diri pada wahyu, yang kemudian berkembang menjadi pola pemikiran sufistis dan mengembangkan pola pendidikan sufi. Pola pendidikan ini sangat memperhatikan aspek-aspek batiniyah dan akhlak atau budi pekerti manusia. Sedangkan dari pola pemikiran yang rasional, yang mementingkan akal fikiran, menimbulkan pola pendidikan empiris rasional. Pola pendidikan bentuk kedua ini sangat memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasa material.
Pada masa jayanya pendidikan islam, kedua pola pendidikan tersebut menghiasi dunia islam, sebagai dua pola yang berpadu dan saling melengkapi. Setelah pola pemikiranrasional di ambil alih pengembangannya oleh dunia Barat (Eropa) dan dunia islam pun meninggalkan pola berfikir tersebut, maka dalam dunia islam tinggal pola pemikiran sufitis, yang sifatnya memang sangat memperhatikan kehidupan batin, sehingga mengabaikan perkembangan dunia material. Pola pendidikan yang yang di kembangkannya pun tidak lagi mengahasilkan perkembangan budaya islam yang bersifat material. Dari aspek inilah dikatakan pendidikan dan kebudayaan Islam mengalami kemunduran, atau setidak-tidaknya dapat dikatakan pendidikan islam mengalami kemandegan.
   Kehancuran total yang dialami kota Baghdad dan Granada sebagai pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan Islam, menandai runtuhnya sendi-sendi pendidikan dan kebudayaan islam. Musnahnya lembaga-lembaga pendidikan dan semua buku-buku ilmu pengetahuan dari kedua pusat pendidikan di bagian Timur dan Barat Islam tersebut, menyebabkan pula kemunduran pendidikan di seluruh dunia islam, terutama dalam bidang intelektual dan material, tetapi tidak demikian halnya dalam bidang kehidupan batil atau spiritual.
Kehancuran dan kemunduran yang dialami uamt islam, terutama dalam bidang kehidupan intelektual dan material ini, dan berahlinya secara drastis pusat-pusat kebudayaan dari dunia islam ke Eropa, menimbulkan rasa lemah diri dan putus asa di kalangan masyarakat kaum muslimin. Ini telah menyebabkan mereka selalu mencari pengangan dan sandaran hidup yang bisa mengarahkan kehidupan mereka. Aliran pemikiran tradisionalisme dalam islam mendapatkan tempat di hati masyarakat secara meluas. Mereka kembalikan segala sesuatunya kepada Tuhan. Dalam bidang fiqih, yang terjadi adlah yang berkembangnya taqlid buta di kalangan umat. Dengan sikap hidup yang fatalistis tersebut, kehidupan mereka sangat statis, tidak ada problem-problem baru dalam bidang fiqih. Apa yang sudah ada dalam kitab-kitab Fiqih lama di anggapnya sebagai sesuatu yang sudah baku, mantap dan benar, dan harus diikuti serta dilaksanakan sebagaimana adanya.




















DAFTAR PUSTAKA
Yokyakarta: LESFI, 2004.
-   Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan

Era Rasulullah sampai Indonesia. Jakarta: Kencana , 2008.
Sou’yb, Yoesoef, Sejarah Daulat Abbasiyah. Jakarta: Bulan Bintang, 1977.
-  Prof. Dr.Hj.Sunanto Musyrifah. Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam
Islam. Jakarta : Kencana, 2007
-   Zuhairini, Dra, Dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara, 2004

Departement Agama Republik Indonesia. Jakarta, 2006
- Drs.Abdullah Fadjar Rozy Dalimunthe. Peradaban  dan Pendidikan Islam : Jakarta, 2007

Akbar Media Eka Sarana, 2003
- Maryam, Siti, Sejarah Peradaban Islam : Dari Masa Klasik hingga Modern.


[1][1] A. Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam (Terj. Muhtar Yahya) Bulan Bintang, Jakarta, 1973, hal. 36

[2][2] Ibid hal. 37
[3][3] Ibid hal. 38/48


[5][5]A.Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam. Op cit hal.92/93



[6][6] Yuyun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Persfektif, Gramedia, Jakarta, 1982
[7][7][7]  Muhammad Yunus , op cit. 76
[8][8] Ibid hal. 88